Review Empress Ki (2013): Drakor Ji Chang Wook dan Ha Ji Won
Review Empress Ki (2013): Drakor Ji Chang Wook dan Ha Ji Won
Hai, kawan-kawan Memoar Sinema, rasanya Memoar Sinema belum membuat review drama Korea ya. Jadi, kali ini aku bawakan drama Ji Chang Wook dan Ha Ji Won yang sudah lumayan lama ini yuk!
➖➖🎞️🎞️🎞️➖➖
Info Drama
Judul: Empress Ki, Hwatu, Battle of Flowers, The Empress Ki
Sutradara: Han Hee, Lee Sung Joon
Penulis Naskah: Jang Young Chul, Jung Kyung Soon
Genre: Historical, Romance, Melodrama, Political
Pemain: Ha Ji Won, Joo Jin Mo, Ji Chang Wook, Baek Jin Hee, Kim Seo Hyung, Jin Yi Han
Tag: Smart Female Lead, Strong Female Lead, Power Struggle, Possessive Male Lead, Love Triangle, Yuan Dynasty, Revenge, Cross-Dressing, Goryeo Dynasties
Tayang: MBC
Rilis: 28 Oktober, 2013 - 29 April, 2014
Durasi: 1 jam 5 menit
Episode: 51
Tipe: Drama
Negara: Korea Selatan
Bahasa: Korea
Rating Usia: 17+
***
Sinopsis Drama Korea Empress Ki:
Genghis Khan membangun sebuah kerajaan yang membentang luas di wilayah Asia Timur dan Eropa Timur. Dalam masa tersebut, ada seorang wanita yang memegang kekuasaan besar di Dinasti Yuan, yang didirikan oleh Genghis Khan, selama 37 tahun.
Dia bukan keturunan Mongol atau dari Klan Cina Han. Dia berasal dari Goryeo, sebuah kerajaan kecil di Timur Jauh. Dia dibawa ke Mongol yang tentu saja bertentangan dengan keinginannya sebagai seorang Gungnyeo (wanita istana) tetapi entah bagaimana demi mengatasi statusnya yang rendah dan segala polemik yang mengancam nyawa, dia pun menjadi permaisuri.
Namanya adalah Permaisuri Ki. Drama ini menggambarkan tentang cinta dan pertempuran di mana Permaisuri Ki menjalankan pengaruh-pengaruhnya di Dinasti Yuan.
***
Nonton ini pertama kali sekitar Desember 2015, kalau nggak salah ingat ditayangkan di Trans 7 sekitar jam 12 WITA. Ingat banget pernah pulang pengajian langsung nyalain TV karena nggak mau ketinggalan episodenya.
Kemudian drama ini aku sempat nggak lanjutin lagi, entah di TV udah nggak tayang atau akunya yang hilang minat nonton karena harus bertarung dengan kantuk. Tahu-tahu aku nggak sengaja nonton dan itu udah episode terakhirnya wkwkwk.
Sampai pada akhirnya, di tahun 2020 waktu awal-awal covid. Kepikiran untuk lanjutin drama ini lagi.
Baca juga: REVIEW DRAMA KOREA THE QUEEN WHO CROWNS (2025)
Review lainnya: REVIEW DRAMA KOREA KINGMAKER: THE CHANGE OF DESTINY
Review Lengkap Drakor Empress Ki:
Nah, aku akan mereview drama ini berdasarkan momen kedua kali menontonnya aja, bukan momen pertama ya.
Karena sudah tahu beberapa hal, drama ini jadi terasa membosankan ketika aku rewatch untuk lanjutkan nonton yang sempat terhenti itu. Kalau dibandingkan dengan yang nonton di TV, memang lebih terasa kurang saat nonton versi online-nya sih.
Untungnya, drama ini tuh ritme narasinya cepat. Sehingga nggak terasa udah 51 episode aja eheheh. Meskipun pada 10 episode terakhir aku merasa ada yang kurang. Terasa diburu-buru gitu, padahal ini 51 episode kan ... bisa banget plotnya dikontrol dengan lebih tertata kan ya? Tapi, entahlah, aku malah merasa kurang.
Oh ya, kelebihan drama ini ada di tokoh Permaisuri Ki alias si Empress Ki itu sendiri. Meskipun Empress Ki adalah karakter utama wanita yang kuat dan bagus, tapi dia bukan karakter yang menyenangkan juga sih. Meskipun begitu, kemunculan karakternya membuat aku yang suka sejarah, akhirnya mencari tahu tentang sosok ini. Tidak banyak yang bisa digali tentang Empress Ki (기황후) atau Empress Qi (奇皇后) dalam Bahasa Mandarin atau Öljei Khutuk (Өлзий хутуг) dalam bahasa Mongolia.
Menurut beberapa sumber, Empress Ki berasal dari kelas bangsawan, tapi menduduki posisi rendah dalam sistem kasta di Dinasti Goryeo. Tidak banyak hal yang bisa digali, selain kabar bahwa Empress Ki memiliki kecantikan luar biasa.
Menurut Google, Empress Ki dikirimkan ke Mongolia sebagai upeti tiga tahunan untuk Toghon Temur sebagai gundik. Saat itu, kerajaan Goryeo biasa mengirimkan upeti berupa budak kasim, benda-benda berharga, dan gundik.
Beruntung, beberapa tahun setelahnya Empress Ki berhasil diangkat menjadi permaisuri kedua alias selir utama dengan gelar Oljei Khutughu. Setelah mendapatkan gelar, karena satu dan lain hal Empress Ki pun mulai memegang kekuasaan utama.
Anak laki-lakinya yang bernama Ayurshiridara pun ditunjuk sebagai Putra Mahkota.
Namun, karena korupsi yang dilakukan oleh keluarganya diketahui rakyat dan ditambah dengan Ki Cheol; saudara lelakinya mencoba untuk menggulingkan raja Goryeo, Empress Ki pun akhirnya dibenci oleh rakyat.
Hingga akhirnya pada tahun 1370, Ayushiridara berhasil naik tahta. Setelah putranya berkuasa, Empress Ki pun menghilang.
Dalam drama, Empress Ki dimainkan oleh Ha Ji Won dengan sangat baik, dengan nama dalam drama adalah Ki Seung Nyang. Nggak bisa kebayang kalau yang meranin Empress Ki bukan Ha Ji Won pasti tidak akan se-epik dia ehehe.
Akting Ji Chang Wook bikin terkesan banget dengan kemampuannya menyampaikan berbagai macam emosi. Ji Chang Wook cocok banget jadi kaisar kontroversial.
Akting Baek Jin Hee dan Jin Yi Han juga bagus banget.... Pemeran lainnya juga bagus kok. Tapi, nyebelin banget karena kebanyakan tokoh yang ada di sini tuh semuanya jahat, berasa nonton drama makjang versi sageuk drama. Meskipun mereka jahat karena berbagai alasan sih.
Beberapa tuh ada yang konsisten; dari awal sampai akhir jahat terus. Ada juga beberapa yang berubah 180 derajat. Sehingga, akting mereka patut dipuji banget sih. Keren.
Oh ya, secara plot dan penokohan drama ini udah sangat baik sih. Penulisnya lumayan cerdik di bagian mengadaptasi penokohan maupun kronologi dari kisah nyata menjadi fiksi, plotnya dirangkum dengan baik, dengan beberapa pengecualian sih. Jadi, meskipun mengambil tokoh asli, drama ini seluruhnya diadaptasi menjadi fiksi ya. Jangan sampai salah menilai atau mengira kalau karakternya tuh nyata dan ada.
Sekadar info nih, saking cerdiknya sang penulis Perdebatan ini drama ini sempat jadi kontroversi karena masalah distorsi sejarah.
Sebab, secara sejarah kelompok keluarga Empress Ki ini melakukan hal kurang baik ke Goryeo dan bahkan menyerang Goryeo, sehingga Empress Ki adalah orang yang layak untuk dipersalahkan. Tapi, drama ini telah menjadikan dia sebagai sosok orang yang hebat dan melakukan pemutarbalikan fakta mengenai kehidupannya.
Kelebihan lain kostumnya indah, benar-benar bagus sih. Setting tempatnya juga aku suka. Apalagi membahas kerajaan Goryeo. Salah satu dari tiga dinasti yang menguasai Korea era kerajaan. Di mana mereka menguasai Baekje dan Silla. Aku suka banget pembahasan ini eheheh....
Selain itu, drama ini memiliki banyak intrik politik, di mana aku memang kurang suka drama berbau politik. Tipis-tipis masih aku bisa nikmati, tapi kalau pertarungan politik berdarah-darah tuh bikin mumet dan bosan.
Secara karakter aku ada love and hate relationship sama Danashri. Karakternya nyebelin tapi penting dan memegang peranan kuat untuk koneksi ke masing-masing tokoh ehehe.
Karakter yang kurang aku suka justru si Wang Yoo yang diperankan Jo Jin Mo, entahlah aku nggak tahu kenapa kurang konek sama karakter yang satu ini. Pokoknya dia jadi salah satu kekurangan drama ini.
Apalagi kekurangan lain ada di chemistry beberapa karakter yang nggak ada sama sekali, flat dan kayak emang nggak cocok aja antar karakter tertentu dengan karakter lainnya. Ada banyak momen yang bikin aku akhirnya skip beberapa adegan dari drama ini.
Ngomong-ngomong, bukan bias ke karakter Toghon Temür atau Ta Hwan yang diperankan Ji Chang Wook nih ya, karena karakter ini juga nggak putih bersih.
Jujur saja, aku nggak bisa melihat atau merasakan chemistry apa pun antara Ha Ji Won (Ki Seung Nyang) dan Joo Jin Mo (Wang Yoo). Di kepalaku, sebenarnya kedua karakter ini udah punya banyak kesamaan yang logis buat mereka saling jatuh cinta, tapi hatiku agak nggak bisa terima gitu loh, ditambah chemistry mereka kurang nendang.
Berlawanan banget sama Ha Ji Won dan Ji Chang Wook, aku bisa melihat dan merasakan chemistry mereka satu sama lain selama 51 episode itu tanpa mengeluh sekali pun. Beberapa momen paling pedih dalam keseluruhan drama pun melibatkan Ha Ji Won dan Ji Chang Wook dan karena itulah aku masih sangat bisa menikmati Empress Ki.
***
Secara keseluruhan, drama Empress Ki tidak dapat memanfaatkan aktor-aktrisnya dengan baik. Sebab fokus drama rasanya agak terbuang percuma untuk memberi jalan bagi plot politik yang mencuri screentime dari berbagai karakter menarik itu. 51 episode menurutku lumayan luas untuk mengeksplorasi periode sejarah yang sekiranya sesuai fakta, lalu beri ruang secukupnya untuk bumbu fiksi.
Yah, intinya, Empress Ki selain tentang politik juga tentang cinta. Bukan hanya tentang cinta segitiga biasa, bukan kisah antara seorang wanita dan dua pria, tetapi antara seorang wanita dan dua negara. Luas, dalam, penting dan berbahaya.
Ini sangat aku rekomendasikan bagi yang suka drama sejarah, dengan taburan politik kental yang bikin sakit kepala. Tapi, ditemani adegan manis dan bumbu makjang ala zaman kerajaan.


Komentar
Posting Komentar